Bank Indonesia (BI) mencatat deflasi harga pangan yang bergejolak sebesar 0,53 persen menahan laju inflasi bulanan pada Oktober 2017 sebesar 0,01 persen, lebih rendah dari perkiraan inflasi bank sentral. ...
Rabu, 01 November 2017
BI kembali turunkan target pertumbuhan kredit 2017
"Pertumbuhan kredit sampai akhir tahun di tujuh persen hingga sembilan persen. Itu sudah diubah (dari 8-10 persen). Mudah-mudahan mencapai itu," kata Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Filianingsih Hendarta.
Filianingsih mengatakan permintaan kredit hingga Agustus 2017 secara keseluruhan memang belum begitu menggeliat. Namun di sisa tahun, penyaluran kredit perbakan diyakini Bank Sentral akan meningkat.
Maka dari itu, Filianingsih meyakini, pertumbuhan kredit perbankan akan menyentuh bias atas dari rentang perkiraan di 7-9 persen.
"Di bias ataslah. Mudah-mudahan," ujar dia.
Flianingsih menjelaskan sektor kredit yang menunjukkan peningkatan adalah Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hingga akhir Agustus 2017, kata Filianingsih, pertumbuhan penyaluran KPR bertumbuh 9,66 persen (yoy) atau lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit secara keseluruhan di industri yang sebesar 8,26 persen (yoy).
Pertumbuhan KPR itu, kata Filianingsih, karena mulai terasanya dampak kebijakan relaksasi nilai pinjaman dari total aset (Loan To Value/LTV) KPR yang diterapkan sejak September 2016. Selain itu, faktor penurunan suku bunga kredit juga menjadi penarik permintaan masyarakat untuk KPR.
"Kalau KPR ini sudah menggeliat," kata dia.
Terkait pertumbuhan kredit sepanjang 2017, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso pada Selasa malam (31/10), mengatakan pihaknya melihat memang ada perubahan Rencana Bisnis Bank (RBB) sejak pertengahan tahun 2017.
Sebelumnya OJK melihat pertumbuhan kredit ada di 13 persen, kemudian diturunkan lagi menjadi 11 persen, dan pada Oktober 2017 ini, OJK melihat pertumbuhan kredit sepanjang tahun berada di 10 persen.
"Kelihatannya agak berat untuk 11 persen di akhir tahun. Kami lihat tercapai sekitar 10 persen," ujarnya.
Menurut Wimboh, hingga September 2017, beberapa bank masih terkonsentrasi untuk merestrukturisasi kredit bermasalah sehingga tidak leluasa untuk melakukan ekspansi penyaluran kredit.
"Setelah kami ikuti betul beberapa individu bank, sedang restrukturisasi kredit, misalnya yang kategori komersial yang bentuknya modal kerja," ujar dia.
Wimboh melihat bank membutuhkan waktu 1-1,5 tahun sejak awal melakukan restrukturusasi kredit untuk dapat kembali mencapai pertumbuhan normal.
"Kami perkirakan perlu waktu 1-1,5 tahun perbaikan NPL ini. Kami perkirakan NPL akan menurun secara gradual," ujarnya.
Adapun hingga September 2017, pertumbuhan kredit perbankan berada di 7,8 persen (yoy), menurut OJK.
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2017
BI: kenaikan "peringkat kemudahan berusaha" dorong pertumbuhan 5,7 persen
Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di sela sebuah seminar di Jakarta, Rabu, mengatakan kenaikan peringkat "EODB" dari Bank Dunia tersebut merupakan bukti reformasi struktural perekonomian di domestik terus berjalan.
"Semoga ini dukung outlook ekonomi Indonesia tahun ini 5,2 persen dan tahun depan 5,4 persen. Tapi kalau 2019 pertumbuhan ekonominya bisa lebih tinggi, 5,5 persen. Bahkan, kami perkirakan 2019 bisa dekati batas atasnya 5,7 persen," ujar Perry di sela Seminar "National and Regional Balance Sheet: Toward an Integrated Macrofinancial System Stability".
Laporan terbaru Kelompok Bank Dunia bertajuk "Doing Business 2018: Reforming to Create Jobs" yang dirilis Rabu ini mencatat peringkat kemudahan berusaha di Indonesia naik dari posisi 91 menjadi 72 dari 190 negara.
Perry mengatakan kenaikan peringkat itu disebabakan reformasi yang dilakukan pemerintah dan pemangku kepentingan lain untuk memudahkan perizinan usaha. Misalnya, kemudahan perizinan di sektor listrik, transportasi dan juga konstruksi.
"Perbaikan terus terjadi. Ini perbaikan peringkat yang kedua kali sebelumnya kita ke-91. Insya Allah akan ada perbaikan-perbaikan lagi," ujar dia.
Dia menilai kenaikan peringkat ini juga menunjukkan kepercayaan banyak pihak di dunia bahwa reformasi struktural perekonomian di Indonesia telah berjalan, atau bukan hanya wacana saja.
"Kalau tidak diimplementasikan, mana mungkin EODB kita naik," ujarnya.
Oleh karena itu, Perry meyakini, penanaman modal asing, modal dalam negeri dan investasi portofolio akan meningkat di dua bulan terakhir pada 2017.
"Ini juga akan tingkatkan tidak hanya confidence (percaya diri), tetapi juga keyakinan investor baik domestik dan internasional bahwa melakukan usaha semakin lama semakin mudah," ujar dia.
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2017
BI kembali turunkan target pertumbuhan kredit 2017
BI: kenaikan "peringkat kemudahan berusaha" dorong pertumbuhan 5,7 persen
Bank Indonesia menilai kenaikan peringkat kemudahan berusaha (ease of doing business/EODB) Indonesia, akan mendorong aliran masuk investasi, terutama untuk infrastruktur, sehingga dapat membantu Indonesia mendekati proyeksi ...
Peringkat kemudahan berusaha Indonesia naik ke 72
Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Rodrigo A Chaves mengatakan, Indonesia mempercepat laju reformasi dalam beberapa tahun terakhir dan upaya tersebut memberikan hasil.
"Kami memuji tekad pemerintah untuk memperbaiki iklim usaha di Indonesia. Melanjutkan momentum dan upaya memperluas reformasi yang mengikutsertakan keterbukaan dan persaingan, merupakan kunci untuk menstimulasi lebih jauh lagi sektor swasta di negara ini," ujar Chaves di Jakarta, Rabu.
Indonesia telah mencapai kemajuan yang signifikan di beberapa wilayah yang diukur oleh Doing Business . Dengan telah mengadopsi 39 indikator reformasi Doing Business selama 15 tahun, Indonesia merupakan salah satu dari 10 reformer teratas dunia.
Lebih separuhnya telah dilaksanakan dalam empat tahun terakhir. Selama dua tahun berturut-turut, Indonesia melakukan tujuh reformasi, yang merupakan jumlah reformasi tertinggi dalam satu tahun.
Reformasi yang telah dilakukan di Jakarta dan Surabaya, dua kota yang diukur oleh laporan tersebut, pada tahun lalu antara lain biaya memulai usaha dibuat lebih rendah dengan penurunan dari sebelumnya 19,4 persen menjadi 10,9 persen pendapatan per kapita.
Biaya mendapatkan sambungan listrik dibuat lebih murah dengan mengurangi biaya sambungan dan sertifikasi kabel internal. Biaya untuk mendapatkan sambungan listrik kini 276 persen dari pendapatan per kapita, turun dari 357 persen. Di Jakarta, dengan proses permintaan untuk sambungan baru yang lebih singkat, listrik juga didapatkan dengan lebih mudah.
Akses perkreditan juga ditingkatkan dengan dibentuknya biro kredit baru. Selain itu, perdagangan lintas negara difasilitasi dengan memperbaiki sistem penagihan elektronik untuk pajak, bea cukai serta pendapatan bukan pajak. Akibatnya, waktu untuk mendapatkan, menyiapkan, memproses, dan mengirimkan dokumen saat mengimpor turun dari 133 jam menjadi 119 jam.
Pendaftaran properti dibuat lebih murah dengan pengurangan pajak transfer, sehingga mengurangi biaya keseluruhan dari 10,8 persen menjadi 8,3 persen dari nilai properti. Kemudian, hak pemegang saham minoritas diperkuat dengan adanya peningkatan hak, meningkatkan peran mereka dalam keputusan perusahaan besar, dan peningkatan transparansi perusahaan.
Di bidang memulai usaha, Indonesia telah melakukan reformasi paling banyak dalam 15 tahun, dengan delapan reformasi sejak 2003. Akibatnya, untuk memulai bisnis baru di Jakarta sekarang dibutuhkan waktu 22 hari, dibandingkan dengan 181 hari di laporan Doing Business 2004. Namun, jumlah prosedur untuk mendaftarkan bisnis baru tetap tinggi, yaitu 11 prosedur, dibandingkan dengan lima prosedur di negara ekonomi berpendapatan tinggi OECD.
Indonesia juga melakukan perbaikan signifikan dalam menyelesaikan kepailitan, dan hal tersebut merupakan pencapaian yang terbaik. Pada 2003, tingkat pemulihan hanya 9,9 sen untuk setiap dolar. Kini tingkat tersebut telah melompat secara signifikan sampai 65 sen.
Indonesia masih perlu perbaikan di bidang penegakan kontrak. Sementara biaya untuk menyelesaikan perselisihan komersial melalui pengadilan negeri di Jakarta menurun hampir separuh dari 135,3 persen dari klaim di 2003 menjadi 74 persen sekarang. Hal tersebut masih jauh lebih tinggi dari rata-rata 21,5 persen di negara ekonomi berpendapatan tinggi anggota OECD.
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2017
Dolar AS menguat didukung data ekonomi positif
Indeks kepercayaan konsumen mencapai 125,9 pada Oktober, tingkat tertinggi dalam hampir 17 tahun, menurut Conference Board pada Selasa (31/10).
Sementara itu, Federal Reserve AS memulai sebuah pertemuan dua hari kebijakannya pada Selasa (31/10) dan dijadwalkan akan mengumumkan keputusan kebijakan moneter terbarunya pada Rabu waktu setempat.
"The Fed diperkirakan akan mengumumkan tidak ada perubahan dalam kebijakannya pada besok, namun bisa menggunakan pernyataannya untuk memberi sinyal tentang pergerakan Desember, mungkin dengan memainkan penguatan ekonomi," kata Chris Low, kepala ekonom di FTN Financial, pada Selasa (31/10).
Pada akhir perdagangan New York, euro naik ke 1,1653 dolar AS dari 1,1633 dolar AS, dan pound Inggris meningkat menjadi 1,3281 dolar AS dari 1,3197 dolar AS. Dolar Australia turun menjadi 0,7660 dolar AS dari 0,7678 dolar AS.
Dolar AS dibeli 113,68 yen Jepang, lebih tinggi dari 113,17 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS juga meningkat menjadi 0,9973 franc Swiss dari 0,9953 franc Swiss, dan naik tipis menjadi 1,2899 dolar Kanada dari 1,2838 dolar Kanada, demikian Xinhua.
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2017