Bank Indonesia (BI) menyatakan masih banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) belum memaksimal penggunaan internet untuk memperluas pangsa pasarnya. "Berdasarkan data di tahun 2015, dari total jumlah UMKM ...
Selasa, 24 Oktober 2017
Pembangunan sektor industri butuh komitmen semua pihak
Senin, 23 Oktober 2017
Kerajinan Tangan Gorontalo Laris Di Luar Daerah
Suranip Abdul, salah seorang pengusaha kerajinan di Desa Luwoo, Senin, mengatakan produk yang paling laris adalah gelang rotan, keranjang rotan dan produk berbahan eceng gondok.
"Dalam sebulan pesanan dari kota Manado, Sulawesi Utara saja bisa mencapai 2.000 buah, karena di sana keranjang rotan banyak diburu untuk tempat bunga dan juga hiasan lainnya," kata Suranip.
Selain toko bunga, sejumlah retail modern di daerah Kotamobagu, Kabupaten Bolaang Mogondow juga menjadi pelanggan setia dari produk kerajinan Gorontalo.
Sedangkan untuk kerajinan berbahan eceng gondok katanya menjadi daya tarik karena tidak semua daerah memanfaatkan gulma tersebut menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi.
"Eceng gondok dianggap unik oleh daerah lain, dan bagi kami bahan dasar eceng gondok dapat dengan mudah ditemukan di Danau Limboto, dengan beberapa proses pekerjaan tanaman yang dianggap gulma tersebut dapat menghasilkan produk yang menarik," ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa 80 persen produk yang dihasilkan oleh sentra kerajinannya laris di luar daerah sedangkan di Gorontalo hanya 20 persen saja.
"Produk yang bisa dibuat dengan berbahan dasar rotan dan eceng gondok adalah tas, tempat tidur, keranjang, kursi, sofa serta hiasan dan lampu tidur," katanya.
Selain itu, menurut Suranip, inovasi dari kedua bahan itu mampu membuat produk Gorontalo dapat bersaing dengan produk dari daerah lain.
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2017
Kerajinan Tangan Gorontalo Laris Di Luar Daerah
Jumat, 20 Oktober 2017
BI apresiasi Polri bantu jaga laju inflasi
"Kepolisian turun dalam bentuk Satgas Pangan, sehingga para spekulan tidak bisa bergerak melakukan hal yang merugikan masyarakat," kata Agus dalam Seminar Nasional Sekolah Pimpinan Tinggi Polri Pendidikan Reguler ke-26 2017 di Jakarta, Jumat.
Inflasi tahunan Indonesia tercatat 3,35 persen di 2015 dan 3,02 persen pada 2016. Dalam tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo, laju inflasi menurun dari 4,49 persen secara tahunan pada September 2014 menjadi 3,72 persen secara tahunan pada September 2017.
Realisasi inflasi 2017 juga diperkirakan berada dalam kisaran sasaran atau 4 persen plus minus 1 persen.
Inflasi pangan dari tahun ke tahun juga lebih terkendali sejalan dengan perkembangan jumlah Tim Pengendali Inflasi Daerah.
"Inflasi perlu dijaga rendah dan stabil, maka akan menguntungkan masyarakat. Kami apresiasi ke Polri karena membantu hal ini," ucap Agus.
Selain itu, Agus juga mengajak pihak kepolisian dalam upaya penegakan hukum, antara lain terkait dengan pemberantasan peredaran uang palsu dan kewajiban penggunaan rupiah mengingat masih banyak pengusaha bertransaksi dalam valuta asing.
Upaya penegakan hukum juga diharapkan dalam penertiban kegiatan usaha penukaran valuta asing (KUPVA) yang ilegal serta kejahatan terhadap penggunaan kartu untuk transaksi pembayaran.
Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Tito Karnavian berkomitmen untuk terlibat dalam upaya menjaga inflasi rendah melalui pengungkapan peredaran uang palsu dan menjaga harga barang stabil.
"Ini kami bantu semaksimal mungkin. Kita perlu berpikir bahwa Indonesia harus dominan di bidang ekonomi," kata Tito.
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2017
BI apresiasi Polri bantu jaga laju inflasi
Kamis, 19 Oktober 2017
ASEAN harmonisasikan standard produk otomotif
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2017